Cerita Rakyat (Pengertian, Ciri-ciri, Macam-macam, Contoh, Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik)
*PENGERTIAN CERITA RAKYAT :
Cerita rakyat adalah cerita yang
berkembang disetiap daerah dan menceritakan asal usul atau legenda yang terjadi
disuatu daerah; cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam masyarakat.
*CIRI-CIRI CERITA RAKYAT:
Cerita
rakyat merupakan bagian dari dongeng. Ciri-ciri cerita rakyat, yaitu :
1. Cerita rakyat disampaikan secara lisan
2. Disampaikan secara turun-temurun
3. Tidak diketahiu siapa pertama kali membuatnya
4. Kaya nilai-nilai luhur
5. Bersifat tradisional
6. Memiliki banyak versi dan variasi
7. Mempunyai bentuk-bentuk klise dalam susunan
atau cara pengungkapannya.
8. Berkembang dari mulut ke mulut
*Macam-macam
cerita rakyat :
-Dongeng
-Mite
-Legenda
-Fabel.
*CONTOH CERITA RAKYAT :
Kalau kita pergi ke daerah Puncak,
Jawa Barat, di sana terdapat sebuah telaga yang bila dilihat pada hari cerah
akan terkesan airnya berwarna-warni. Telaga itu namanya Telaga Warna dan konon
merupakan air mata tangisan seorang ratu.
Zaman
dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang
raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan
bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk
yang lapar di negeri itu.
Semua sangat
menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat
pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka
mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung
adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka.
Ratu sering
murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.. Lalu Prabu pergi
ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak.
Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil.
Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan
hadiah.
Sembilan
bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri. Penduduk negeri pun kembali
mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu.
Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
Prabu dan
Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia
inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya
tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun
begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.
Hari
berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam
beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu
pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu
mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam
ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
Prabu hanya
mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. “Tolong,
buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,” kata Prabu. “Dengan senang
hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin,
dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia,
karena ia sangat menyayangi Putri.
Hari ulang
tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan
Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin
terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua
orang mengagumi kecantikannya.
Prabu lalu
bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. “Putriku tercinta,
hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari
penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini,
karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,”
kata Prabu.
Putri
menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau
memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu.
Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.
Itu sungguh
mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak
seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu.
Tangisannya diikuti oleh semua orang.
Tiba-tiba
muncul mata air dari halaman istana. Mula-mula membentuk kolam kecil. Lalu
istana mulai banjir. Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin
besar dan menenggelamkan istana.
Di hari yang
cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan.
Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di
sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung
Putri yang tersebar di dasar telaga.
* UNSUR INTRINSIK
1. Tema
Dalam legenda Telaga Warna bertema “Kemanusiaan”.
2. Tokoh dan watak
a. Raja
Prabu Suwartalaya
: Penyayang, baik hati, dan bijaksana.
b. Ratu
Purbamanah
: Penyayang.
c. Putri
Gilang
Rukmini
: Durhaka kepada orang tua, pemarah, dan manja.
d. Penasehat
Raja
3. Alur
Legenda Telaga Warna Menggunakan alur Maju.
4. Latar/Setting
a. Tempat
: Istana
b. Suasana :
1. Menyenangkan
2. Sedih
3. Mengejutkan
4. Hening
5. Amanat
a. Kita harus menghargai setiap
pemberian yang diberikan pada kita.
b. Sebagai anak kita tidak boleh
durhaka pada orang tua.
6. Sudut pandang : Orang ketiga.
*UNSUR EKSTRINSIK
1. Nilai
social
Ketika ahli perhiasan membuatkan
kalung yang sangat indah untuk putri.
2. Nilai
Moral
Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak
mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu.
Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.
3. Nilai
Kepercayaan
Pada Saat Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus
berdoa, agar dikaruniai anak.