Nasi Goreng

 

Nasi goreng ibu

 

Rina dan Tina adalah kakak beradik, mereka adalah putri dari ibu Sutini. Rina sebagai kakak mempunyai postur tubuh yang agak sedikit lebih kecil dari adiknya tina, rambut Rina sedikit bergelombang dengan matanya yang sipit, berpostur tubuh tinggi dengan warna kulit sawo matang. Sedangkan Tina sang adik mempunyai postur tubuh yang bongsor alias besar, rambutnya yang juga panjang dan bergelombang, matanya yang juga sipit serta juga warna kulitnya sawo matang. Bahkan jika orang yang tidak kenal bisa menyangka bahwa mereka anak kembar. Padahal umur mereka terpaut jauh 2 tahun alias berjarak 2 tahun. Ibu Sutini hanya seorang pembantu rumah tangga yang penghasilannya tak seberapa. Sedangkan ayah mereka sudah meninggal sejak 8 tahun yang lalu. Ibunya berusaha membanting tulang untuk membiayai biaya sekolah kedua putrinya. Mereka hidup sangat sederhana setiap harinya. Sang ibu berusaha menghemat dalam hal memasak dan pengeluaran biaya sekolah.

Tahun ini Rina masuk SMA, beruntung Rina bisa meneruskan untuk bersekolah ke SMA karena Rina termasuk siswi yang berprestasi, Rina bukan type orang yang banyak berbicara. Karena itu ia punya motto hidup “sedikit bicara, banyak bekerja”  mungkin karena motto hidupnya itu ia selalu mendapat peringkat 3 besar sejak bersekolah di SD (Sekolah Dasar) berkat perestasinya yang sangat membanggakan itulah Rina dapat melanjutkan sekolahnya dengan gratis.

Kini penantian panjang Rina terbayar sudah, hari pertama menginjak tanah Sekolah Menengah Atas (SMA). Rasanya tak bisa terbayarkan rasa bahagia yang kini sedang menyelimuti hati Rina. Kini saatnya Rina untuk masu ke kelasnya menuju kelas X3.Di kelas Rina bertemu kakak-Kakak Osis yang ramah-ramah dan baik-baik ini. Karena semangat Rina yang terus membara dan semakin membara di sekolah baru, kelas baru, teman-teman barunya Rina pun mengambil bangku paling depan. Tak lama pun perkenalan oleh kakak-kakak Osis dimulai. Disana ada kak Shinta, kak Dwi, kak Rudi, kak Ana, kak Dea, serta kak Aldo. Di hari pertama Sekolah, semua penuh canda gurau, mulai dari perkenalan kakak-kakak Osis, perkenalan teman-teman di kelas, mereka semua menyebutkan hobi dan cita-cita yang sangat menarik dan lucu-lucu itu sehingga sangat menggelitik perutku. Setelah perkenalan dalam durasi waktu yang cukup lama karena memang jumlah murid di kelas cukup banyak yaitu 35 orang sehingga memakan waktu yang lama. Setelah perkenalan tak lupa kak Ana memberitahu kepada adik-adiknya informasi untuk MOS besok.

“Oh iya adik-adik perlangkapan untuk MOS besok tolong kalian pakai kalung permen, tas dari karung beras, kaos kaki warna hijau sepanjang lutut, rambutnya di ikat 10 karena besok tanggal 10, satu lagi sepatunya enggak boleh warna lain selain warna hitam dan putih. Mengerti? “ tanya kak ana.

“mengerti kak …” jawab adik-adik kelas yang kompak.

“ ok terima kasih, informasi selanjutnya akan di jelaskan oleh kak rudi“ usul kak ana.

“ pesan dari kakak jangan lupa besok bawa bekal dari rumah karena aktifitas kita untuk besok cukup lama, tapi agar lebih seru lagi nanti bekal yang kalian bawa akan dikumpulkan ke meja guru dan di bagi kan lagi secara acak, jadi makanan yang kalian bawa tidak di makan oleh kalian yang membawanya, melainkan teman kalian. Kalian mengerti ? jika ada yang belum dimengerti silakan bertanya“  jelas kak rudi dengan panjang.

“kak…” Rina mengacungkan tangannya

“ya silahkan” jawab kak Rudi singkat.

“bekal nya lauk apa ?” Tanya Rina.

“oh… semampu kalian saja, tapi minimal harga lauk yang kalian bawa itu tidak kurang dari Rp 5.000 tidak keberatan kan ?” jelas kakak kelas yang bijak itu.

Rina menganggukan kepalanya pertanda ia mengerti dengan penjelasan kak Rudi tadi. Namun seketika Rina terdiam, ia tak tahu lauk apa yang akan dibawanya besok. Beberapa menit kemudian bel pulang sekolah berbunyi, menandakan bahwa pelajaran telah berakhir.

Rina pulang kerumah, ia pulang dengan berjalan kaki karena jarak antara sekolah dan rumahnya tidak begitu jauh, mungkin hanya memakan waktu kurang lebih 15menit. Sesampainya di rumah ia bingung sangat bingung ia masih memikirkan lauk apa yang akan dibawanya besok.

“tidak mungkin aku bawa tahu dan tempe ini, ini kan tidak sampai seharga Rp 5.000” batin Rina.

Ia terus berfikir sambil baring dikasur hingga ia menemukan satu. Satu nya ide yang muncul dikepala mungilnya itu “ya sudahlah aku tidak usah bawa bekal saja” batin rina lagi. Keputusan itu ia ambil karena tak ingin merepotkan sang ibu.

Selasa pagi, udaranya begitu sejuk, mungkin karena tadi malam turun hujan. Gumpalan awan putih bersih memenuhi langit yang berlatar belakang warna biru muda. Cerah sekali beberapa pohon yang tumbuh sembarangan ditepi jalan terlihat segar sehabis disiram hujan. Tetapi kondisi itu sangat bertolak belakang dengan hati Rina. Berjalan kaki ke sekolahan dengan hati berkelabu.

 

 

Sesampainya dikelas tak sesemangat hari kemarin. Di kelas aktifitas mereka dengan kakak Osis dari pagi hingga siang. Tiba saatnya makanan yang dibawa adik kelas dikumpulkan dimeja guru dan dibagikan secara acak nantinya oleh kakak Osis. Jantung Rina terus berdebar, tubuhnya berkeringat seketika saat kak Dea bertanya “siapa yang tidak membawa bekal?” Dengan berat hati Rina mengangkat tangannya, ternyata bukan hanya Rina saja yang tidak membawa bekal, temannya Rio ternyata tidak bawa bekal dengan alasan buru-buru. Tanpa banyak cerita kak Dea menghukum Rina dan Rio karena sudah melanggar kewajiban hari ini. Meraka berdua dihukum jalan jongkok 1kali keliling lapangan. Malu bercampur capek rasanya. Setelah melaksakan hukuman, mereka berdua diperbolehkan pulang lebih awal untuk makan. Tetapi dengan satu syarat, besok mereka harus membawa bekal.

Seperti biasa Rina pulang dengan berjalan kaki, sesampainya dirumah Rina langsung mencuci piring, ibunya juga baru pulang kerja. Rina langsung memberi tahu kepada ibu.

“Ibu besok Rina diharuskan membawa bekal, tapi bawa apa ya bu” Ucap Rina pelan.

“hmm… sebentar ya ibu pikirkan” Usul ibu.

Kurang dari 5menit Rina menunggu ibu berpikir, sang ibu langsung mendapat ide cemerlang.

“Mau tidak bawa nasi goring saja ?”

“Wah, boleh juga tub u, kakak Osis nya bilang tidak boleh kurang dri 5rb, soalnya bakal ditukar sama teman. Hore… ibu trima kasih ya ?” Ucap Rina yang senang sekaligus lega..

“Iya sama-sama, bangun pagi bantui ibu masak ya” kata Ibu

“siip ibu.. aku kekamar dulu ya” jawabnya Rina.

Rina pun masuk kekamar dengan hati yang senang dan sangat berbunga-bunga.

“Akhirnyaaa… nggak dihukum lagi deh besok” Batin Rina.

Malamnya Rina mempersiapkan semua keperluan yang harus dibawanya besok setelah itu ia langsung tidur agar besok tidak kesiangan. Karena sekarang jam sudah menunjuk ke angka 9, bukan kah itu waktu wajib bagi pelajar untuk tidur.

Keesokan harinya di pagi hari, Rina terbangun dia melihat jam. Ternyata sudah pukul 5pagi. Ia langsung beranjak dari kasurnya dan membangunkan sang adik. Setelah itu Rina lekas kekamar mandi untuk mandi dan wudhu, sebagai umat Islam tentu saja sholat merupakan kewajiban. Setelah sholat langsung ia membantu sang ibu walau hanya sebatas mengiris bawang. Dan yang memasak tetap ibu. Rina mengganti pakaian yang dipakainya dengan seragam sekolah. Sementara itu ibu masih membungkus nasi gorengnya.

 

Sekarang jam menunjuk pukul 06.20 pagi, Rina harus segera berangkat sekolah agar tidak terlambat. Seperti biasa, perjalanan menuju sekolah memakan waktu kurang dari 15menit. Sehingga pukul 06.35 Rina sudah sampai kekelasnya. Ternyata hari ini tidak ada yang ada melanggar aturan.

“Adik-adik kumpulkan bekal kalian ke atas meja guru” seru kak Dea.

Semuanya maju dan menaruh bekal mereka, kak Dea, kak Rudi, dan kak Shinta membagi makanan itu secara acak. Tiba-tiba hati Rina terasa tidak enak, jantung berdetak cepat, ia terus melihat bekal yang dibawanya.

“bagaimana nanti kalau bekal ku rasanya tidak enak ? asin ? atau nanti bekalnya didapat anak orang kaya ? habis nanti aku diledekin”. Batin Rina panjang.

Ternyata dia melihat bekalnya dipegang kak Shinta, dan ternyata nasi itu sudah dimeja Vira.

“Wah gimana ini ? ternyata benar, makanan ku jatuh ke tangan anak orang kaya itu” Kata Rina didalam hati.

Ia terus saja berpikir yang aneh-aneh yang mungkin saja belum tentu terjadi. Sementara itu Vira mulai membuka bungkus makanan yang didapatnya, sedangkan Rina terus melirik Vira. Perlahan nasi goring itu mendarat ke mulut Vira yang mungil. Secara spontan Vira berteriak “WAHHH nasi goreng milik siapa ini ??? sungguh aku tidak pernah memakan nasi goreng seenak ini !!”

Malu-malu dan ragu-ragu Rina mengangkat tangannya. “Iiiii… itu nasi goreng mi…milikku” ucap Rina terpatah-patah.

Langsung saja Vira menghampiri Rina ke bangkunya.

“ini nasi goreng milik mu?” Tanya Vira yang memastikan.

“iyaa” jawab Rina pelan.

“tidak keberatan kah jika besok kamu membawakan ku 2bungkus nasi goreng seperti ini?” Tanya Vira

“maaf ya Vir… tapi aku tidak jualan” jawab Rina dengan berat hati.

“ayo, sekali ini saja kumohon ya ? aku bayar 2kali lipat deh ? mau ya ?” pujuk Vira.

“jangan, jangan, jangan bayar 2kali lipat, aku akan nggak enak jadinya, ya udah deh kalau kamu maksa” jawab Rina.

“Horeee terima kasih ya Rin, aku tunggu besok ya” kata Vira.

“iya, sama-sama Vir” jawab Rina.

 

 

Sesampainya dirumah, Rina menceritakan apa yang didalamnya tadi disekolah. Ternyata ibu tidak keberatan untuk memasak nasi goreng itu lagi. Pagi-pagi sekali ibu memasak nasi goreng itu lagi. Rina siap untuk membawa nasi goreng itu untuk Vira. Disekolah Vira langsung bertanya “mana nasi goreng ku ?” Rina lalu memberinya, Vira membayar nasi goreng itu seharga Rp 15.000. tetapi Rina menolak karena katanya itu terlalu mahal untuk nasi goreng sederhana seperti itu. Akhirnya Vira membayar 2 nasi goreng dengan harga 10.000 tanpa diketahui Rina, berita nasi gorengnya enak itu sudah menyebar ke teman sekelasnya. Karena saat itu Vira berteriak. Maka satupersatu temannya mendatangkan Rina kebangkunya. Dan menanyakan “apakah keberatan jika kami memesan nasi goreng mu ? kami ingin mencicipnya ya ?” minta salah seorang temannya

“iya, tentu saja boleh” jawab Rina

“lalu siapa saja yang ingin memesan nasi goreng ku ?” tambah Rina

“aku…, aku…, aku…, aku juga” minta teman-temannya.

Untuk hari ini saja Rina mendapat pesanan 6bungkus.

“lumayan juga bisa buat bantu nyukupin keperluan sehari-hari nih 30rb ” ucap Rina dalam hati.

Keesok pagi maka ibu Sutini memasak nasi goreng agak sedikit lebih banyak dari biasanya. Rina juga membawanya dengan sekantong plastic bukan di dalam tasnya. Sesampainya di kelas teman-teman yang memesan nasi goreng langsung menyerbu Rina di bangkunya. Hari berlalu demi hari pesanan nasi goreng sukses, setiap harinya selalu meningkat tak jarang guru pun ada juga yang memesan karena semakin hari semakin banyak pesanan, maka memerlukan waktu yang cukup lama untuk memasaknya. Jadi sekarang bukan Rina lagi yang menenteng-nenteng nasi goreng tapi sang ibu lah. Ibunya mengantar nasi goreng itu saat istirahat. Dan Rina tinggal mengambilnya di depan pagar.

Begitulah nasi gorengnya kini mulai di gemari dan saat ini mamanya Vira minta kepada ibunya Rina untuk menerima “catering” di kantor tempat mama Vira bekerja. Letak kantor tempat mama Vira bekerja memang lumayan jauh, memakan waktu setengah jam. Pesanan nasi goreng yang di minta juga tidak tanggung-tanggung yaitu 100 bungkus per hari. Tetepi mamanya Vira sangat memeri bantuan yaitu menyuruh orang untuk menjemput nasi gorengnya di rumah. Jadi ibu Sutini tidak perlu mengantar pesanan jauh-jauh ke kantor. Upah yang diterimanya cukup menjanjikan dan pekerjaan sebagai pembantu tak lagi di lakuinya hanya sesekali saja yaitu hari sabtu, itu karena dia memesak nasi goreng catering hanya pada hari senin sampai hari jum’at. Sehingga sabtu dia bisa mencucui dan minggu juga jarang-jarang. Waktu untuk istirahat juga cukup. Saat ini sudah 2 minggu ia memasak catering untuk kantor.

Mamanya Vira sangat berbaik hati dia ingin ibu Sutini berjualan di sebuah ruko di pinggir jalan. Namun uang yang di miliki saat ini masih belum cukup. Tak segan-segan mamanya Vira ingin membayari biaya membeli rukonya. Ibu Sutini semakin tidak enak hati. Betapa inginnya mama Vira melihat ibu Sutini hidup makmur. Karena ibu Sutini begitu bijak, gigih dan rajin. Hasilnya pun sangat memuaskan. Sekarang ibu Sutini tidak bisa menolak lagi, mamanya Vira sangat memaksa kehendaknya bahkan minggu ke 3 ibu Sutini bekarja dengan nya. Telah mama nya Vira berikan ruko itu.

 “Bagaimana cara saya membalas kebaikan ibu ini? Ibu sangat baik sekali dengan saya” kata ibu Sutini penuh takjub.

“Tidak usah bu, ibu cukup menjadi pribadi yang baik, gigih dan dapat menjaga kepercayaan yang saya berikan untuk ibu “ ucap mama Vira dengan bijak.

Akhirnya ibu Sutini dan anak-anaknya menempati ruko itu.